in

The Sulfur Survivor

Hari masih pagi ketika saya tiba di pos pendakian Gunung Ijen, Banyuwangi, Jawa Timur. Bulan putih nampak di ufuk barat. Langit mulai terang. Kabut melayang rendah. Suara kokok ayam hutan terdengar sayup-sayup di kejauhan. Aroma dedaunan dan rerumputan yang basah oleh embun sering berganti dengan bau belerang yang berasal dari kawah.

Pendakian itu menguras tenaga saya, sehingga sering berhenti untuk beristirahat. Pada umumnya, orang memerlukan waktu selama 1 jam untuk sampai di pos tersebut. Lalu 30 menit lagi untuk mencapai bibir kawah. Sedangkan saya perlu waktu 3 jam untuk bisa bertemu dengan kopi panas di tempat istirahat itu.

Sambil menyeruput kopi, saya melihat Slamet Mustaqim. Dengan hanya bersandal jepit, ia berjalan kaki sambil merunduk dan melihat jalur yang akan dilaluinya. Ia memikul belerang seberat satu kuintal. Badannya tegap berotot. Wajahnya ramah. Pemuda berusia 30 tahun itu bertelanjang dada. Udara di ketinggian sekitar 2200 meter di atas permukaan laut tidak membuatnya kedinginan. Malahan keringatnya mengucur deras dan memantulkan sinar matahari, sehingga nampak berkilat. Suaranya sengau karena sedang terserang flu. Sesekali ia terbatuk.

Ia hanya bisa berjalan sejauh tumit persis di depan ibu jari kaki. Nafasnya nyaris seirama dengan langkahnya. Lintasan yang dilaluinya berupa tanah berlapis pasir dan kerikil. Ia harus berhati-hati agar tidak tergelincir. Sesekali ia pindahkan kayu pikulnya dari bahu kanan ke bahu kiri, bergantian.

Perjalanan melintasi jalur yang curam sambil membawa beban, bukanlah hal yang bisa dilakukan oleh sembarang orang. Jarak dari tambang ke bibir kawah adalah 800 meter. Sudut kemiringannya mencapai 45 derajat. Mendaki jalur demikian memerlukan tenaga dan kewaspadaan yang tinggi. Lebih sulit lagi ketika menempuh jarak 4 kilometer menurun dari bibir kawah ke Paltuding. Kedua tungkai kakinya harus mampu menahan bobot tubuhnya ditambah dengan gaya gravitasi dan beban pikulan.

Pekerjaan itu dilakukannya sejak remaja. Mengikuti jejak ayah, kakek dan buyutnya. Ia mendapatkan upah seribu rupiah untuk setiap kilogram belerang yang berhasil diangkutnya hingga ke lokasi penimbangan. Semakin banyak perolehan belerang, berarti lebih banyak uang yang dibawanya pulang.

Slamet bekerja setiap hari. Kecuali hari Jum’at. Ia berangkat dari rumahnya di desa Jambu, kecamatan Licin pada pukul 3 dinihari. Saat kedua anaknya masih tidur lelap. Lalu pulang pada pukul 5 sore. Dalam sehari, ia mampu mengangkut belerang seberat 200 kilogram dalam 2 kali perjalanan pergi dan pulang. Dari dasar kawah hingga ke Paltuding.

Di dasar kawah, ia harus memakai masker penutup hidung dan mulut bikinan sendiri. Yaitu secarik kain basah. Gunanya untuk mengurangi pengaruh asap belerang. Hanya mengurangi. Bukan menghentikan. Padahal, asap yang dikeluarkan oleh sumur alami bergaris tengah 1 km itu mengandung kadar asam yang sangat tinggi. Air danau sejumlah 40 juta meter kubik itu mampu merontokkan jemari, hanya dalam hitungan detik.

“Kebutuhan rumahtangga terus meningkat. Saya harus bekerja lebih giat supaya bisa mencukupi. Apalagi, tahun depan anak sulung saya masuk SMP”. Begitu katanya usai meneguk air bening botolan.

Kadangkala, Gunung Ijen mengajaknya berpuasa. Yaitu ketika kawahnya mengeluarkan gas beracun. Tambang belerang akan ditutup. Bisa selama seminggu. Namun pernah juga mencapai satu setengah tahun. Selama itu juga Slamet dan penambang lainnya berhenti bekerja.

Gunung Ijen selalu memberikan tanda-tanda, sebelum mengajak rehat. Biasanya berupa terbentuknya pusaran air di danau kawah. Lalu airnya berubah warna dari hijau tosca menjadi kecoklatan. Pada tahap ini, semua kegiatan dalam radius 2 kilometer dari bibir kawah harus dihentikan. Setelah itu, air kawah akan mengeluarkan gelembung-gelembung berisi gas yang mematikan.

Bagi sebagian orang, hal itu adalah musibah. Namun, oleh para penambang dianggap anugerah. Karena, setelah seluruh proses yang membahayakan itu berakhir, kualitas belerang akan menjadi lebih baik. Jumlah cairannya menjadi lebih banyak. Ketika itu, Ijen sedang menyeimbangkan dirinya. Sama halnya dengan siklus 4 tahunan Gunung Merapi. Seusai erupsi, lahan di sekelilingnya akan menjadi subur.

Keadaan alam itulah yang membuat Slamet dan penambang lainnya tetap semangat bekerja. Meskipun sebagai buruh, mereka tidak mendapatkan jaminan kecelakaan kerja. Tidak mendapatkan manfaat pensiun dan manfaat lainnya. Seperti pada umumnya pegawai perusahaan lainnya. Padahal, mereka adalah ujung tombak lini produksi berbahan baku belerang.

Seringkali para penambang berkumpul di pondok peristirahatan ini. Rasa senasib sepenanggungan membuat mereka kompak dan saling mempedulikan. Bercanda sambil minum kopi bersama adalah cara ampuh untuk menjaga kebersamaan dan menghilangkan penat. Seluruhnya ada sekitar 550 penambang. Hubungan antara yang satu dengan lainnya sangat akrab. Melebihi saudara sedarah.

Saya betah berada di tempat ini. Suasananya damai dan asri. Di sini hanya ada tiga buah pondok. Termasuk tempat menginap petugas Konservasi Sumber Daya Alam Ijen. Semua bangunan terbuat dari kayu dan beratap genting tanah. Di sekitar pondokan dikelilingi oleh pohon akasia. Sebagian besar dedaunannya gugur. Angin tak pernah berhenti berhembus.

Namun, saya tidak bisa berlama-lama di sini. Perjalanan ke puncak Ijen masih jauh. Slamet pun harus segera turun mengangkut belerangnya menuju ke tempat penimbangan di Paltuding. Meskipun hanya singkat, pertemuan itu menambah semangat saya untuk bergegas mencapai tujuan. Tanpa banyak keluhan dan alasan.

Slamet pamitan. Di keranjangnya tertulis: “beban hidupmu tak seberat pikulanku”.***

Report

What do you think?

3 Comment authors
Riza AmrullahRisnandarhasanIsnania Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
Isnania

Keren moto jago bikin cerita juga asik… mantap mas !!! Fix ini idola 😁😁😁

Risnandarhasan

Riza Amrullah rangkaian kata kata e lho

https://www.instagram.com/p/B6rInneHQSA/?igshid=1p7x4ixoncgkh

Canon EOS 90D Review