in

Pawon

Asal katanya adalah pa-awu-an yang berarti tempat meng-abu-kan. Ada banyak abu sisa pembakaran kayu untuk proses memasak makanan bagi seluruh keluarga. Pawon juga tempat menyimpan cadangan makanan berupa beras dan hasil bumi lainnya. Jagung digantung di atas perapian agar cepat kering.

Di pawon ada dipan besar atau amben untuk berbagai kegunaan. Pada pagi hari amben itu digunakan untuk tempat meracik bumbu sebelum mulai memasak. Setelah makanan selesai diolah, amben menjadi tempat menaruh hidangan yang sudah siap disajikan. Pada malam hari, amben adalah tempat untuk bercengkrama dengan keluarga sambil menikmati kopi, teh dan berbagai kudapan.

Di banyak tempat, di pelosok desa, ukuran pawon sama dengan bangunan utama rumah, yaitu ruang tengah yang menyatu dengan ruang tamu. Tidak ada pemisahan, karena mereka menganggap bahwa tamu adalah bagian dari keluarga. Letak pawon ada di bagian belakang.

Sebuah keluarga dibentuk, ditatar, dididik di pawon. Anak-anak ditempa moralnya dengan cerita-cerita nenek moyang yang bernilai luhur dan sarat makna filosofis tentang berbagai hal pada kehidupan. Baik untuk relasi horizontal kehidupan sosial bermasyarakat, maupun relasi vertikal antar manusia dengan Tuhan. Ajaran humaniora, unggah ungguh, budi pekerti dan tata krama bergaul di masyarakat luas, ditularkan di tempat tersebut.

Kebudayaan Jawa menganut klasifikasi semesta hitam dan putih. Warna hitam berarti kotor dan putih berarti bersih. Pawon berwarna hitam mewakili sifat kotor. Penuh jelaga sisa pembakaran. Baik di dinding, langit-langit maupun di wadah masakan. Dalam konteks sandang, pangan dan papan, hitamnya pawon menyiratkan pesan agar kita menjauh dari kekotoran. Mengurangi keinginan untuk makan dan tidur. Karena terlalu banyak makan dan tidur akan membuat kita menjadi tumpul. Sebaliknya, kita dianjurkan untuk memperbanyak tirakat dalam rangka mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

Namun, seiring dengan perkembangan zaman, banyak hal yang sudah berubah. Lahan hunian kian menyempit. Keberadaan pawon ikut menyusut. Tempat ngobrol dengan keluarga pindah ke ruang tengah, bercampur dengan pesawat televisi yang kehadiran tayangannya mengganggu proses belajar dan mengajar. Lambat laun, rumah tidak lagi menjadi benteng utama pendidikan moral. Peranan orang tua sebagai pendidik pun berkurang. Digantikan oleh gadget. Kita membelikan kasih sayang kepada anak. Bukan memberikannya. Semuanya atas nama kebutuhan hidup.

Kita semakin tidak bisa membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Segalanya diukur secara materi. Pola hidup pun berubah menjadi konsumtif. Kita lupa bahwa rezeki sudah diatur di dalam satu paket, bersama kelahiran dan kematian. Perubahan itu bertentangan dengan filosofi pawon.

Dengan atau tanpa pawon, sebuah rumah adalah tempat tinggal, tempat berbaur, berbagi kehangatan, kebahagiaan dan informasi yang bergizi kepada seluruh anggota keluarga. Terutama anak.***

Report

What do you think?

1 Comment authors
Risnandarhasan Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
Risnandarhasan

Asik om Riza Amrullah nulis e

lines

INUB